Makanan Khas Tangerang

Makanan Khas Tangerang

    
Laksa bahan utamanya adalah semacam bihun tapi tebalnya seperti spaghetti dan terbuat dari beras. Kemudian bahan-bahan ini disiram dengan kuah laksa yang dimasak dari kacang ijo, kentang, santan dan kaldu ayam. Selain itu disediakan juga tambahan daging ayam kampung atau telor. Sebelum disajikan masakan ini diberi taburan daun kucai yang dirajang kecil-kecil.
Beberapa tempat menyajikan sajian khas ini seperti di Jl. M. Yamin-Kota Tangerang, tepatnya di depan penjara wanita.


                                                                        Sayur Besan
Sayur Besan adalah makanan khas Tangerang yang selalu dihidangkan pada saat orang tua mempelai laki-laki datang ke rumah orang tua mempelai wanita, pada acara perkawinan (ngabesan), sehingga sayur ini dinamakan Sayur Besan.


Toge Goreng

Toge Goreng, Kuliner Khas Benteng, Pudar Masih Digemari 
TOGE goreng begitu nama kuliner khas Kota Benteng yang telah berkembang sejak hampir setengah abad lalu. Berbahan dasar toge dan ketupat dicampur mie kuning, kucay (daun seledri), oncom, dikuahi tauco dan sambel ini, sejak setengah abad lalu telah digemari masyarakat.
Namun di zaman serba komputer ini, kuliner toge goreng telah mulai ditinggalkan penggemar, ditandai dengan semakin langkanya para pedagangnya. Kalaupun ditemui, maka pedagang itu telah menjadi langganan atau di pusat-pusat keramaian lama, semisal sekitaran pertokoan Kiasnawi-Kisamaun.
Adalah Abdul Hamid, pedagang toge goreng yang kini telah berusia 65 tahun dan telah menjajakan kuliner hampir 45 tahun di jantung Kota Tangerang. Lelaki tangguh tinggal di Gang Perintis I Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, kini berdagang keliling mendatangi pelanggan dan pembelinya.
Diceritakannya pada kisaran tahun 1970, saat dia memulai berdagang toge goreng di pusat keramaian Pasar Lama dan Bioskop Merdeka, dia bisa menjual kuliner ini tiga kali lipatnya yang dijajakannya sekarang. “Dahulu saya bisa menjual sampai 100 piring, sekarang mah Cuma 30 piring…”
Harga per sepiring toge goreng pun dahulu cuma Rp 15, sekarang sepiring Rp 5.000. Meskipun sekarang harganya lebih mahal, tetapi untungnya terbalik dari keuntungan di tahun 1970-an. Dahulu dari omzet penjualan, sepertiganya modal dan dua pertiganya untung. “Sekarang dua pertiga modal, sepertiga untung.”


Pindang Bandeng
Meskipun banyak durinya, ikan bandeng tetap diburu. Ini karena dagingnya yang gurih lembut mirip dengan rasa susu.
Pindang merupakan salah satu istilah masakan tradisional yang mengacu pada hidangan berkuah. Hidangan sederhana ini berbumbu bawang merah, bawang putih, cabai, salam, lengkuas, jahe dan kunyit. Bumbu lain yang baisa ditambahkan adalah kecap manis dan rasa asamnya berasal dari belimbing sayur atau asam Jawa yang dibakar.


Soto Marjuk

Soto Marjuk Tangerang,Rasa Khas Kaki 5 Sudah 45 Tahun
Begitu sampai di lokasi, Haji Maman dan seorang pegawainya lalu sibuk pasang 2(dua) kursi panjang (kursi yang dibuat dari selembar papan panjang) yang dibawanya dari rumah, tanpa meja cuma kursi tok, tampilan yang seadanya. Ia kemas kemas sebentar…selanjutnya tak lama kemudian pengunjungpun mulai berdatangan silih berganti. Ada yang pesan untuk disantap langsung di tempat dan tak sedikit juga yang minta dibungkus buat oleh-oleh mulut-mulut lain yang ada di rumah mereka. Antrian pesanan biasanya terus berlanjut seperti air mengalir yang tiada berhenti. Parkiran mobil dan motor ikut berjejeran di dekat gerobak dorongnya, terus silih berganti.
Maka, akan terlihatlah Haji Maman yang terus sibuk melayani pesanan, praktis tak ada lagi waktu jeda untuk dia istirahat. Mulai dari membelah ketupat, mencomoti bihun, lalu memberikan bumbu tambahan seperti garam, kecap, cuka, kacang kedele, daun bawang plus penganan tambahan yang khusus di berikan jika diminta – yaitu rempeyek. Tak lupa tentunya dengan kelengkapan sambal dan kuah sotonya yang tajam aroma kaldu dan bumbu-bumbuan khasnya itu. Semua itu harus dia kerjakan sendiri hampir tanpa istirahat sampai dagangannya benar-benar habis kering kerontang. Seorang pegawainya hanya bertugas untuk mengantarkan pesanan, air minum dan cuci mangkok, selebihnya dia yang harus turun tangan sendiri… agar kenikmatan citra rasanya tetap terjaga, demikian kilahnya sambil tersenyum bangga.
Bila kursi penuh, banyak para pengunjung yang menyantap sotonya di mobil atau di atas sadel motor masing-masing. Suasana baru sepi setelah soto habis di sekitar jam 11-an malam.




Posting Komentar

Copyright © Koharesse . Designed by OddThemes